Langsung ke konten utama

FRUIT ELEVATOR

 
Fruit elevator adalah alat angkut yang memindahkan berondolan rebus dari elevasi rendah ke elevasi tinggi. Bagian utama dari fruit elevator yaitu: body, bucket dan rantai. Fruit elevator merupakan jalur kritis yang mendapat perhatian ekstra, oleh sebab itu pabrik kelapa sawit membangun 2 unit fruit elevator walaupun selama pabrik mengolah hanya menggunakan satu unit saja (Untuk pabrik dengan kapasitas 30-45 ton TBS/jam). Gerak utama penggerak berputar dengan kecepatan yang konstan sementara rantai akan berjalan diatas plat rantai sepanjang tinggi efektif fruit elevator.
Keberhasilan fruit elevator dicapai jika semua berondolan rebus dapat diangkut semua dan menuangnya ke upper cross conveyor dengan baik.

Keberhasilan fruit elevator didukung oleh kecukupan jumlah bucket, volume angkut bucket, kecepatan bucket. Dalam realisasi dilapangan kerusakan pada bucket lebih sering menjadi titik kerusakan, seperti bucket peyot dan bucket lepas dari ikatannya. Titik kritis yang kedua terjadi dirantai elevator yang selip di plat penumpu rantai dan sproket.
Dua unit fruit elevator dihubungkan oleh full ribbon conveyor disisi bagian bawah dan sisi bagian atas sehingga tiap elevator dapat digunakan dari jalur yang ada walaupun terjadi kerusakan di thresser station dan hoisting crane.
Posisi penempatan fruit elevator sendiri berada diantara pressing dan thresshing station dengan kemiringan 75-85 derajat.
As sproket fruit elevator bagian bawah harus dilengkapi dengan pegas peredam agar rol rantai tidak menerima beban tiba-tiba yang besar sehingga rantai lebih aman.
Body fruit elevator umumnya terbuat dari rangkaian plat mild steel minimal 5 mm dan bordes atas tempat meletakkan elektromotor serta gear speed reducer harus dapat dijangkau dengan mudah sehingga memudahkan pengawasan dan perbaikan kerusakan pada body dan bordes sangat minim, umumnya karena efek korosif body dan bordes diganti baru.
Kondisi timba-timba dan rantai harus diperiksa setiap minggu terutama ikatan baut timba-timba/bucket dan ikatan rol rantai. Demikian juga dengan minyak pelumas gear speed reducer.
Untuk jangka waktu tertentu, ketegangan rantai perlu disetel ulang, baik rantai sebelah kiri maupun sebelah kanan agar pergerakan bucket simetris untuk mencegah rantai selip.
Untuk memudahkan perawatan dan penyetelan rantai, sebaiknya bagian dasar body fruit elevator berada diatas lantai kerja pabrik, jangan minus (sumuran).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahapan Proses Perebusan di Vertical Sterilizer

       Gambar kiri Vertical Sterilizer tampak keseluruhan dan sebelah kanan pintu bawah vertical sterilizer sedang mengeluarkan buah matang rebus.   Prinsip proses perebusan buah sawit di vertical sterilizer sama dengan proses perebusan di horizontal sterilizer. Adapun tahapan proses perebusan buah sawit di vertikal sterilizer sbb:

Under Flow Sludge flow out

  Gambar CST   Cairan yang masuk ke CST akan membentuk lapisan sesuai fisiknya. Minyak pasti berada pada level teratas, dominan air dilapisan ke dua dan dominan lumpur / sludge dilapisan paling bawah. Sludge ini masih mengandung minyak sawit 5-7 % bahkan jika CST tidak bekerja maksimal kandungan minyak sawit di sludge bisa mencapai > 12 %. Sludge ini secara kontiniu harus dialirkan keluar dari CST ke Sludge Tank untuk di ambil kembali kandungan minyak sawitnya serta menjaga kestabilan pembentukan lapisan minyak di CST.

Daya Olah Pabrik Kelapa Sawit

Daya olah pabrik kelapa sawit saat mengolah TBS (tandan buah segar) merupakan jumlah TBS diolah dalam satu satuan waktu. Ada beberapa persepsi muncul tentang jumlah TBS olah dan waktu. Beberapa pabrik menetapkan jumlah parameter TBS olah merupakan Kapasitas terpasang dikali jumlah jam dalam satu hari (Kap. terpasang x 24 jam). Jika pabrik berkapasitas 60 ton TBS/jam, maka daya olah satu hari = 60 ton TBS/jam x 24 jam = 1.440 ton TBS. Jika pabrik sawit mengolah dengan realisasi 1200 ton TBS maka utilitasnya = 1.200/1.400 = 83,3%. Berapa persenkah utilitas pabrik kelapa sawit dikatakan kategori baik? Beberapa pelaku usaha mengatakan 90%, beberapa orang lagi mengatakan 100%, bahkan ada yang cukup hanya 80-85% sudah cukup bagus. Lalu bagaimana jika waktu olah dihitung dalam satuan 1 tahun rencana kerja pabrik? Lalu bagaimana dengan hari libur umum, keagamaan atau libur nasional, apakah juga dihitung dalam menentukan utilitas pabrik kelapa sawit? Jika kita ingin menghitung utilitas maksimal...