Langsung ke konten utama

Turbine Uap di Pabrik Kelapa Sawit


100_2178a
Gbr Turbin uap 1000 KVA
 
Urat nadi di pabrik kelapa sawit (PKS) adalah uap. Uap dihasilkan oleh boiler dengan tekanan kerja normal 20 bar dengan kapasitas uap tergantung disain boiler. Untuk kondisi normal, boiler minimal efektif mampu menghasilkan uap 60% dari kapasitas olah per jam PKS. Jika kapasitas olah per jam = 30 ton TBS/jam x 60% maka jumlah uap minimal yang harus dihasilkan boiler 18 ton uap/jam.
Dengan demikian konsumsi uap normal turbin sama dengan kapasitas normal boiler sama dengan kebutuhan maksimal uap PKS. Dengan kapasitas uap normal boiler, turbin harus mampu menggerakkan seluruh stasiun PKS tanpa bantuan PLN, Genset, PLTA atau sumber energi lainnya, sehingga self energy tercipta di PKS.
Tekanan kerja normal turbin tidak sama dengan tekanan kerja normal boiler. Hal ini akibat adanya energy loss diinstalasi pipa uap antara turbin dengan boiler.
Menurut pengalaman, energy loss dari boiler ke turbin normalnya maksimal 1 bar dan titik inlet ke nozel turbin 2 bar, sehingga total energy loss hingga kesudu turbin uap mampu mencapai 3 bar. Maka jika kita memilih turbin uap untuk PKS tidak boleh berdasarkan tekanan normal boiler = 20 bar. Jika persyaratan turbin uap kita minta 20 bar, berarti tekanan boiler kita harus 23 bar, tentu hal ini tidak mungkin diterapkan.
Selama proses pengolahan buah sawit berlangsung kestabilan tidak mungkin terjadi terus menerus oleh sebab itu kita beramsumsi tekanan boiler 18 bar, turbin uap mampu beroperasi pada tekanan 15-16 bar dengan kapasitas uap 60% x kapasitas olah pabrik/jam.
Dengan demikian turbin uap yang hemat komsumsi uap tidak direkomendasikan karena kebutuhan uap untuk proses pengolahan pasti akan kurang. Jika konsumsi turbin uap boros juga tidak dianjurkan karena pada kondisi fluktuasi terendah turbin tidak mampu menopang seluruh kebutuhan energi listrik proses pengolahan.
Selain faktor tekanan uap dari sisi in let turbin, kita juga harus memperhatikan kemampuan turbin uap melayani tekanan balik uap. Hal ini karena uap bekas turbine "ditampung" di tanki BPV dengan tekanan normal 3 bar. Kenapa 3 bar? karena kebutuhan tekanan kerja uap di sterilizer 3 bar. Oleh sebab itu turbin uap harus mampu melayani tekanan uap balik antara 3-4 bar.
Oleh karena itu hati-hati dalam memilih turbin uap untuk proses pengolahan pabrik kelapa sawit.







Komentar

  1. Menjual berbagai macam jenis Chemical untuk Boiler cooling tower chiller dan waste water treatment untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi saya di email tommy.transcal@gmail.com
    WA:0813-1084-9918
    Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahapan Proses Perebusan di Vertical Sterilizer

       Gambar kiri Vertical Sterilizer tampak keseluruhan dan sebelah kanan pintu bawah vertical sterilizer sedang mengeluarkan buah matang rebus.   Prinsip proses perebusan buah sawit di vertical sterilizer sama dengan proses perebusan di horizontal sterilizer. Adapun tahapan proses perebusan buah sawit di vertikal sterilizer sbb:

Daya Olah Pabrik Kelapa Sawit

Daya olah pabrik kelapa sawit saat mengolah TBS (tandan buah segar) merupakan jumlah TBS diolah dalam satu satuan waktu. Ada beberapa persepsi muncul tentang jumlah TBS olah dan waktu. Beberapa pabrik menetapkan jumlah parameter TBS olah merupakan Kapasitas terpasang dikali jumlah jam dalam satu hari (Kap. terpasang x 24 jam). Jika pabrik berkapasitas 60 ton TBS/jam, maka daya olah satu hari = 60 ton TBS/jam x 24 jam = 1.440 ton TBS. Jika pabrik sawit mengolah dengan realisasi 1200 ton TBS maka utilitasnya = 1.200/1.400 = 83,3%. Berapa persenkah utilitas pabrik kelapa sawit dikatakan kategori baik? Beberapa pelaku usaha mengatakan 90%, beberapa orang lagi mengatakan 100%, bahkan ada yang cukup hanya 80-85% sudah cukup bagus. Lalu bagaimana jika waktu olah dihitung dalam satuan 1 tahun rencana kerja pabrik? Lalu bagaimana dengan hari libur umum, keagamaan atau libur nasional, apakah juga dihitung dalam menentukan utilitas pabrik kelapa sawit? Jika kita ingin menghitung utilitas maksimal...

Under Flow Sludge flow out

  Gambar CST   Cairan yang masuk ke CST akan membentuk lapisan sesuai fisiknya. Minyak pasti berada pada level teratas, dominan air dilapisan ke dua dan dominan lumpur / sludge dilapisan paling bawah. Sludge ini masih mengandung minyak sawit 5-7 % bahkan jika CST tidak bekerja maksimal kandungan minyak sawit di sludge bisa mencapai > 12 %. Sludge ini secara kontiniu harus dialirkan keluar dari CST ke Sludge Tank untuk di ambil kembali kandungan minyak sawitnya serta menjaga kestabilan pembentukan lapisan minyak di CST.